Episode Padang Mahsyar
Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, “Tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah… Ah aku tidak mau mengira-ngira.”
Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencoba mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.
Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penghitungan dan penentuan, hari dimana aku akan menerima keputusan akan balasan dari amal-amalku selama hidup di dunia. Hari ini pula akan ditentukan nasibku selanjutnya yang akan berlangsung abadi. Terbayang di mataku, surgakah yang akan kunikmati tanpa akhir? Atau adzab neraka yang tiada henti?
Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku karena aku ingat amal-amal baikku di dunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat ridha dan kasih sayang-Nya lantaran amal-amal itu? Atau jangan-jangan... Tiba-tiba seluruh tubuhku bergemetar hebat.
Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang Menguasai Hari Pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menempati Surga yang penuh keindahan dan kenikmatan tiada tara.
Lagi-lagi dadaku berdebar, rasa-rasanya namaku akan termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya sedekah dan pengorbanan yang sering kekeluarkan selama di dunia. Terlebih lagi, dulu juga aku selalu berjuang meringankan beban penderitaan orang lain dari kalangan anak-anak autis dan Berkebutuhan Khusus dhuafa dan keluarga mereka.
Akhirnya, nama-nama itu mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Disebutlah nama para nabi dan orang-orang soleh.
Dadaku berdegub keras. Namaku tak juga kunjung dipanggil. Padahal orang-orang lainnya yang pernah kukenal di dunia sudah banyak yang dipanggil.
Tak lama kemudian dipanggil nama-nama yang tak asing bagiku. Begitu kulihat wajah mereka… Ya Allah, mereka adalah anak-anak autis dan special needs lainnya yang pernah menjalani terapi di lembaga tempat aku berkiprah. Mereka adalah anak-anakku juga...
Ya Allah… rupanya mereka memanggil namaku. (bayangkan mimik wajah mereka yang terbata-bata memanggil nama kita. Rasakan suara mereka yang sangat khas mengajak kita ke Surga).
Aku semakin menangis karena mereka seperti mengajakku ke Surga dengan lambaian tangan mereka. Aku tersenyum kecut. Tenggorokkanku seperti tersedak karena tak bisa menjawab, karena namaku belum juga dipanggil..
Lalu dipanggillah dan lewat di depan mataku, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik pagar rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak."
Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, namaku belum juga terpanggil. Aku semakin resah, aku ingin segera bertemu Allah dan menghiba, "Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bersedekah, banyak membantu orang lain, panggillah aku ke Surga-Mu."
Seorang dengan wajah bersinar disampingku berbicara, "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentingan ritualmu, sedekahmu sebatas untuk memperjelas status sosial, di balik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan," bergetar tubuhku mendengarnya.
Anak-anak autis, pengemis tua, dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka ternyata lebih dulu masuk ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, Surga adalah balasan yang pantas untukku atas aktivitas mulia yang kulakukan demi kemanusiaan selama ini, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya.
Ternyata, aku tidak lebih baik dari mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari mereka. Aku semakin mengerang Ya Allah, akankah Engkau panggil namaku?*** (Gau, rev. Dek)