Rumah Autis

Support by:

saf web design

Telaga Rindu

E-mail Print PDF

“Dari Sepenggal Sejarah, Epos Kita Bergelora”

 “Adilkah Tuhan, jika saya yang harus menanggung ujian berat ini?” ratap Yasmir 7 tahun yang lalu, ketika ia ditolak oleh sebuah pusat terapi autis komersial di Bekasi, karena tidak mampu membayar biaya terapi untuk putrinya yang manis, Lailatul Amanah.

Jeritan dan Kebangkitan

Hati Yasmir menjerit. Honor bulanannya yang cuma 750 ribu rupiah saja sudah cukup berat untuk menopang makan dan mengontrak rumah. Bagaimana jika harus dibebani biaya terapi Ana yang cukup mencekik bagi ukurannya itu. Belum lagi,biaya itu harus dikeluarkan terus-menerus dalam jangka panjang, entah sampai kapan.

Jeritan pilu itu kemudian ditangkap oleh Isty, terapis yang bekerja di lembaga tersebut, yang ketika itu ikut melayani konsultasi Yasmir. Ia gelisah karena tidak bisa berbuat banyak. Kemudian dibaginyalah kegelisasan itu kepada Henny, terapis di lembaga yang sama. Karena bingung menindaklanjuti kegelisahan itu, akhirnya mereka tumpahkan kepada mentor pengajiannya, Ulfi.

Kemudian  Ulfi menularkan keprihatinan itu kepada suaminya, Deka. Lelaki yang juga berprofesi sebagai wartawan itu pun tergugah. Deka kemudian segera mencari berbagai info kegiatan sosial untuk anak autis dhuafa, terutama lewat internet, tapi nyaris tak satu pun lembaga yang memiliki program kemanusiaan itu.

Akhirnya, Deka melempar gagasan kepada mereka untuk membuat sendiri wadah sosial yang bisa menampung anak autis dhuafa seperti Ana. Gayung bersambut, mereka menyatakan kesiapannya untuk terlibat. Maka sejak itu dimulailah proyek mulia itu dengan menggodok konsep, sambil terus mencari peluang kerja sama untuk merealisasikannya.

Momentum Aksi

Momentum itu pun tiba. Medio Juli 2004, ketika Deka dan keluarganya berpindah rumah tinggal ke Bekasi, ia langsung mencari tempat yang agak luas supaya bisa digunakan sekaligus sebagai tempat terapi bagi anak-anak autis dhuafa. Sudah ada Ana yang membutuhkan terapi, ada Isty dan Henny yang bersedia menyumbangkan ilmu/ keterampilannya menterapi, serta rumah kontrakannya untuk tempat terapi, maka tinggal mencari sarana terapinya.

Dengan izin Allah SWT, seorang donatur dari dunia maya tergugah untuk menyumbangkan satu lemari kontainer peralatan terapi bekas anaknya. Tidak lama, donatur lain menyumbangkan sejumlah uang untuk pembuatan ruangan terapi dari triplek-triplek sederhana di rumah kontrakan Deka-Ulfi. Dalam masa persiapan itu, atas bantuan kakak dan adik-adiknya yang mempunyai Production House (PH) Deka juga membuat film dokumenter tentang dunia anak autis dhuafa.

Di tengah kesibukan masing-masing, mereka rutin menggodok rencana kegiatan kemanusiaan yang akan mereka selenggarakan. Dan akhirnya pada kuartal terakhir tahun 2004 kegiatan mereka bisa dilangsungkan. Beberapa kali sepekan, setiap sore, sepulang bekerja di pusat terapinya, Isty dan Henny, datang ke rumah Deka-Ulfi untuk menterapi Ana. Belakangan bergabung juga Rizki dan Sarah. Kegiatan inilah yang alhmadulillah masih terus berlangsung hingga sekarang dengan 200 lebih ABK di 7 cabang.

Anugerah Terindah

Kami bersyukur sekali kepada Allah SWT, karena selalu memberikan kami kekuatan, sehingga bisa mengelola ladang kebajikan ini demi kontribusi yang berarti bagi sesama. Namun, anugerah terindah bagi kami adalah kesempatan berjuang bersama dunia anak spesial itu sendiri, yang membuat kami bisa belajar sabar, ikhlas, syukur, agar hidup kami berarti.

Memang perjuangan kita masih panjang. Kita punya mimpi besar untuk membangun masa depan yang cerah bagi anak-anak istimewa ini. Karenanya, betapa indah jika kita bisa terus-menerus ada di Barisan Empati Rumah Autis ini untuk tetap bergandengan hati meniti bentangan amal soleh di dalamnya: bentangan yang berujung di Surga, Insya Allah.***(DK)

Last Updated ( Wednesday, 20 July 2011 09:41 )  
You are here: Home Kabar Telaga Rindu

Pengunjung Situs

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday123
mod_vvisit_counterYesterday123
mod_vvisit_counterThis week682
mod_vvisit_counterThis month2417
mod_vvisit_counterAll103791

Donasi

donatur


Download

Rekening Donasi RA

rekening

Diary Hamza

hamzaLewat tulisan ini, Muhammad Hamza bercerita yang jujur atas segala kejadian dan perbuatan Hamza. Hamza dilahirkan dalam keadaan tak berdaya, dengan mata tak mau terbuka tuk melihat alam semesta bumi ini. Hamza tak mau meminum ASI dan Hamza tak mau menangis. Maka kata Ummi yang Hamza sayangi: “Hamza dimasukkan dalam inkubator agar hangat dan ada aktifitas tuk Hamza.

Read more...