Lewat tulisan ini, Muhammad Hamza bercerita yang jujur atas segala kejadian dan perbuatan Hamza. Hamza dilahirkan dalam keadaan tak berdaya, dengan mata tak mau terbuka tuk melihat alam semesta bumi ini. Hamza tak mau meminum ASI dan Hamza tak mau menangis. Maka kata Ummi yang Hamza sayangi: “Hamza dimasukkan dalam inkubator agar hangat dan ada aktifitas tuk Hamza.
Namun Hamza juga harus diberi: – selang untuk meminum susu dan diberinya infus yang diberi darah. Karena Hamza pucat tidak ada kehidupan. Disitulah Hamza awal hidup, harus dibantu segala alat untuk menjalin kehidupan dan Hamza “Hidup!”...Alhamdulillah...Namun Allah masih sayang pada Hamza, saudaraku...ternyata diusia 2 bulan mata Hamza katarak dan Hamza 9 bulan sudah bisa berlari sambil tabrak sini tabrak situ. Jadi setiap jalan dan berlari Hamza mendapatkan benjolan kepala. Ummi Abi...mengapa Hamza juga dilarang bermain kipas angin yang Hamza suka dengan putarannya itu dan itu awal Hamza didiagnosa...menuju autisme...
Tapi apa autisme itu, hingga Ummi dan Abi membawa Hamza harus terapi dirumah sakit cipto yang jauh dari rumah. Dan Hamza harus dioperasi katarak diusia 1 tahun. Saudaraku diusia 1 tahun itulah Hamza tidak punya lensa + 17 dan harus pakai kacamata yang berat itu. Hamza sebenarnya sedih harus memakai yang berat dimata Hamza, sehingga maaf, harus Hamza copotin, Hamza gigit atau Hamza patah-patahkan begitu terus sampai Ummi harus membelinya lagi sampai 4 kali...sampai Ummi tidak sanggup membeli kacamata lagi buat Hamza. Lewat tulisan ini juga Hamza merasakan kesedihan dan usaha Ummi atau Abi tuk berusaha mendapatkan terapi, tapi Hamza tahu Ummi dan Abi tidak punya dana.
Sehingga selama 4 tahun Hamza tidak terapi. Dan disitulah Hamza jadi liar, pernah: berlari kencang mengejar truk, pernah hilang dan ditemukan oleh tukang becak, pernah mengacak-acak pasar, pernah jatuh dan harus dijahit dan lain-lain.
Namun bersyukur, keadaan Hamza ada perubahan setelah ada rumah autis yang peduli dan menerapi Hamza sampai sekarang. Banyak sekali yang Hamza dapati dirumah autis ini. Saudaraku, temanku....perkembangan kemandirian Hamza dapati disini, Hamza sudah bisa membantu Ummi dirumah dengan memasak, membereskan rumah, menyapu dan mencuci serta mandiri dan dapat mengendalikan diri. Dan Hamza sudah bisa tahu ibadah dengan memahami gerakan-gerakan Shalat, membaca doa, berinteraksi dengan sesama teman dan menyayangi sesama teman. Dan saudara-saudara, Alhamdulillah sudah ada kata-kata yang dipahami Hamza seperti kata: “tidak”, “ya”, “sudah”, dan lain-lain.
Semua itu karena bimbingan dan sentuhan terapis-terapis Rumah Autis yang penuh keikhlasan dan kasih sayang yang tulus.
Atas nama Hamza dan kelurga besar mengucapkan Jazakillah Khoiron khasiron kepada seluruh donatur, staf dan terapis yang peduli dan sayang terhadap kami yang perlu uluran tangan yang tulus. Semoga Allah membalas dengan surga di dunia dan akhirat kelak.
HAMZA
*disarikan dari surat umminya hamzah















